Selasa, 06 Desember 2011

SAAT CINTAKU BERWUJUD LAIN


Aku diam. Semakin diam. Tubuhku yang tadinya bersandar di kursi meja, mendadak ingin tidur. Aku menuruti tanganku. Menyentuh meja, meringkuk pelan, dan kumasukkan kepalaku dalam dekapan hangat. Aku menangis. Tuhan…
            Istirahat pertama, ketika aku, Fanya dan Alif bersama-sama pergi ke kantin sekolah. Kelas kami cukup jauh dari tempat  yang ingin kami tuju. Kami harus berjalan melewati taman. Perlahan kami berjalan. Taman penuh dengan siswa. Baik murid kelas satu sampai dua kelas diatasnya. Taman SMP kami cukup luas, rindang dan sangat nyaman untuk menghabiskan waktu disana. Tak ubahnya dengan Chika dan pacar barunya. Aku tersenyum melihat mereka. Chika yang manis dan sedikit kekanak-kanakan mendapat seorang laki-laki lucu yang pernah menjadi teman SD-ku. Aku ikut tersenyum ketika aku lihat mereka bercanda.
            Tak jauh dari mereka, disudut taman kulihat Dito, tentunya bersama Rani. Si Tampan dan Si Cantik, begitu sebutan kami. Fanya ternyata juga memperhatikan mereka. Aku menyenggol pelan tangan Fanya. Ia tersenyum seakan tahu bahwa aku suka mereka. Rani yang cantik dan pintar sangat cocok dengan Dito, anak kelas tiga yang satu tahun lebih tua. Dito pintar dan ramah. Aku suka mereka. Aku dan Fanya berjalan santai, tapi tidak dengan Alif, ia tampak terburu-buru karena lapar. Karena dia sedikit mendesak untuk segera sampai, kami  pun menurutinya untuk berjalan lebih cepat.
            Kantin sekolah tampak ramai. Tempat ini terlalau sempit untuk menampung setidaknya  300 siswa sekaligus. Alhasil, dengan susah payah kami berhasil menerobos lalulintas manusia yang super padat. Kami berhasil masuk dan Alif tentu saja segera memilih makanannya. Fanya juga tak mau tertinggal. Dan  aku, hanya melihat mereka sambil tertawa kecil.
Aku menoleh. Ada suara tawa yang tak asing untukku. Kulihat diseberang sana, di depan salah satu meja kantin, sesosok gadis bernama Sita. Dia tentu saja sedang memperlihatkan betapa menyenangkannya dia dihadapan pacar barunya, Teo. Tingkah yang dibuat menggemaskan, senyum manja, bicara yang terkesan anggun, aku heran kenapa Teo bisa tertipu wajah topeng Sita. Ih, amit-amit.
            Sita tersenyum, memainkan rambut hitamnya dan bertingkah seolah dia sangat cantik dihadapan Teo. Aku benci hal itu! Parasnya, rambutnya, senyumnya, aku juga bisa seperti itu. Aku tak kalah cantiknya dengan dia. Tiba-tiba Sita menoleh kearahku, melihatku dengan sorotan tajam. Ia lalu berbisik pada teman-temannya. Mereka tertawa, menertawakan aku yang tertangkap basah sedang memperhatikan Sita dengan pandangan iri. Bukan iri, aku hanya..

            Aku kembali menangis. Aku sakit. Aku bodoh. Untuk apa aku memikirkan Sita dengan pacarnya, membandingkan Sita dengan aku, menangis hanya karena hal bodoh macam ini, untuk apa?! Fanya menyentuh lenganku. Memberitahu lewat isyarat bahwa Bapak Guru sudah datang. Dan artinya, aku harus menyudahi tangisan dan pikiran bodohku. Imbasnya,  pelajaran hari ini kulewati dengan diam dan perasaan benci setelah kejadian tadi.
*****
            "Hey katak, film kesukaanmu diputar  tuh. Jadi nonton nggak?"
            "Nggak!"
            "Eh, mas nggak bohong lho", Mas Tyan mencoba jujur, tapi aku tetap pada pendirian.
            "Enggak, Mas nonton aja sendiri!"
            Braakk! Pintu kubanting keras. Aku tak tahu lagi seperti apa raut Mas Tyan saat itu. Yang aku tahu, aku benci hari ini!
            Buku harian, tempat  yang paling bisa untuk aku mencurahkan semua yang aku rasakan. Buku yang selalu diam, setia dan mau menerima seburuk apapun cerita maupun goresan yang aku buat diatasnya. Dan kali ini aku mencari. Mencari dan tak kutemukan. Aku bingung. Panik. Kubongkar semua isi meja belajarku, tas sekolah, laci almari dan kolong tempat tidur menjadi penelitian terakhir. Tak ada! Ya Tuhan, siapa yang mengambil?
            Aku keluar dari kamar. Dengan marah ku langkahkan kaki menuju meja ruang tamu, mengutak-atik isinya dan hasilnya juga nihil. Aku beralih, menuju ruang keluarga tempat Mas Tyan sedang asyik bersandar di kursi malas milik Ayah. Di almari buku, juga tak ada. Di meja juga tidak ada. Mas Tyan heran, aku melotot kearahnya. Dia semakin heran. Aku mendengus kesal dan beranjak meninggalkan tempat itu.
            "Nyari apa Ka?"
            "Bukan urusan Mas!"
******
Hujan. Cukup deras dan tentunya dingin. Aku duduk di beranda rumah. Melihat air yang jatuh dengan derasnya dari atap. Aku masih diam. Teh hangat yang menemaniku belum kusentuh apalagi kuminum. Aku lelah. Aku marah. Aku bingung. Buku harianku hilang,  dan aku tak menemukannya setelah mencari seharian.
Mas Tyan tiba-tiba datang. Duduk disampingku dan menunjukkan jam tangannya. Jam 8 malam. Aku masih marah padanya. Mungkin ia datang karena Ayah
dan Ibu yang tak berhasil mengajakku bicara. Kakakku memang terkadang menyebalkan, tapi ia pandai merebut hati seseorang untuk nyaman berbicara dengannya. Dan sekarang,  Mas Tyan mendekat. Melihat wajah yang sedari tadi kubiarkan suram. Ia tersenyum dan menyandarkan kepalanya. Menatap langit-langit dan mendesah pelan. Aku meliriknya sekilas lalu kembali pada posisiku semula.
            Mas Tyan mengambil nafas.  Cukup dalam sepertinya. Ia tersenyum lagi, bahkan tertawa. Aku heran. Mengapa ia tertawa?
            "Ika Pramesthi. Ini kan yang kamu cari?", ia menyodorkan buku berwarna biru gelap ke arahku. Aku sumringah, kupeluk lalu kutatap Mas Tyan. Tajam.
            "Terjatuh di bawah kursi malas Ayah, mungkin kamu lupa", ia menjawab curigaku. Aku tersenyum sinis.
            "Bersyukur, adalah hal yang membuat sesuatu yang  tadinya kurang menjadi sempurna. Yang tadinya sakit menjadi lebih lapang. Yang  tadinya pesimis menjadi kembali bersemangat. Tak perlu terlalu jauh bersyukur, cukup kamu ilhami betapa beruntungnya kamu punya dua tangan, dua kaki, anggota tubuh yang  sempurna, baik rupa dan juga lingkunagn. Kamu punya keluarga, teman, sahabat, kamu punya semuanya Katak", Mas Tyan menoleh padaku sesaat sambil tersenyum.
            "Mas baca diaryku?" aku bertanya heran. Mas Tyan mengangguk. Aku menunduk. Malu ketika membanyangkan Mas Tyan membaca semua ceritaku mengenai Sita.
            "Ka, cinta itu bukan berarti harus punya pacar, harus ada yang suka, harus ada yang bilang aku cinta kamu atau apalah itu! Tapi cinta itu sesuatu hal yang abstrak dan tulus. Hal yang akan terus ada tanpa melalui kata pacaran. Seperti saat ini. Ada Mas Tyan, ada Ayah, Ibu, teman-temanmu, itu yang disebut cinta. Mereka mungkin tak seperti kekasih, tetapi lebih dari itu. Dah sana, disimpan bukunya, Mas mau tidur", mas  beranjak. Ia mengeliat sebentar dan tersenyum ke arahku. Mengusap rambutku pelan dan masuk.
            Aku kembali diam. Mas benar, cinta tak harus berwujud seorang kekasih, seorang yang mengatakan aku cinta kamu, atau apalah itu. Cinta adalah ketika kamu berada di antara orang yang slalu bisa menemanimu dalam keadaan apapun. Mas Tyan benar, meski aku tak punya kekasih, aku punya cinta. Cinta yang berwujud lain. Cinta yang kusebut keluarga, teman dan sahabat. Dan cintaku, akan tetap terus seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar