“Sudah kuduga, dibalik semua keramahannya, ternyata ia seorang yang licik juga!”
“Wah, benar itu. Kamu benar!”
Tersungging senyum di bibirnya. Ya, dia memang menang. Tapi, rencanaku belum dimulai. Aku, berjanji untuk membuatnya mengerti. Apa itu yang dinamakan “benar”, dan apa itu yang dinamakan “beruntung”. Aku melihat gadis-gadis itu satu persatu pergi meninggalkan kantin. Mereka adalah teman sepermainan yang selalu menghabiskan waktu istirahat mereka untuk berbincang-bincang mengenai sikap dan sifat seseorang dengan penyorot utama yaitu Tami. Gadis yang kerap kusebut “si pembaca sifat”, julukan aneh yang kuberikan untuknya karena tingkahnya yang sedikit membuatku berpikir. Berpikir merencanakan ulah nakalku ini.
Ulah yang kurencanakan bertahap ini kudapat setelah pembicaraan serius beberapa hari yang lalu dari beberapa gadis yang bisa dikatakan menjauhi Tami. Lebih tepatnya menjauh dari kebiasaan kurang baiknya selama ini. Kudengar banyak pendapat dari segelintir siswa yang menandakan ketidak sukaan mereka terhadap Tami. Bahkan, ada beberapa yang menceritakan pengalamannya yang tak sengaja mengetahui bahwa yang Tami bicarakan adalah dirinya dan ia sakit hati. Itu memang benar. Perkataan Tami memang cukup menyinggung perasaan.
Aku hanya diam. Beberapa murid yang mengetahui aku ada di dekat mereka memilih diam dan lama-lama menyingkir. Aku tahu pasti ada hubungannya dengan Tami. Kawan lama yang mulai menjauh dariku setelah sifat ajaibnya muncul. Selain itu, aku memang gadis pendiam. Tak banyak tingkah dan sering didapati berjalan sendiri tanpa kawan. Aku sedikit merasa diasingkan, namun aku bertahan. Toh, aku tak salah.
Siang ini, aku melewati jalan yang berbeda dari biasanya. Jalan dimana Tami biasa mencari inspirasi untuk mengomentari para korban banyolannya. Aku sengaja lewat. Ini bagian dari rencanaku. Tami biasa pergi ke tempat-tempat yang menurutnya pas untuk “meramal”. Aku ingin tahu, wangsit apa yang ia dapat hari ini.
Kulihat sebuah sepeda motor berwarna biru melaju pelan. Dikendarai oleh seorang gadis yang memakai helm dan tas yang sama warnanya. Itu Tami. Perkiraanku tepat. Jalan inilah yang akan ia lewati untuk pulang. Motor itu melaju pelan. Pelan sekali. Bahkan aku mengira motor itu hanya mengikuti alur jalan yang menurun dengan posisi mati. Aku membuntutinya pelan. Agak jauh dibelakangnya sambil terus mengamati segala polah tingkahnya di siang bolong yang luar biasa panas ini.
Tiba-tiba ia berhenti. Memarkirkan motornya di kiri jalan dekat dengan sepetak sawah yang cukup luas. Ia kemudian turun dan melepas helmnya. Meninggalkan barang itu bersama kendaraan yang sebelumnya telah ia pastikan aman. Berjalan di gundukan tanah yang biasa orang sebut pematang sawah, ia berhenti di sebuah gubuk reyot yang masih lumayan jikalau untuk berteduh siang ini. Tapi, mengapa harus disini? Aneh. Tapi, aku belum menyerah. Aku harus tahu kenapa.
Sepeda kini aku letakkan cukup jauh dari tempat Tami berteduh, dan pemiliknya mulai mengatur siasat bagaimana cara mendekati gadis manis itu tanpa beradu mata dengannya. Akhirnya aku memilih untuk menyamar menjadi gadis desa. Rambut panjang yang aku ikat menjadi dua belahan khas orang pedesaan menjadi salah satu penyamaranku kali ini. Ditambah jaket usang yang paling kusayangi, menjadikan alibiku kali ini pasti berhasil. Rok sekolah yang aku kenakan terpaksa aku tutup dengan kain batik yang kebetulan aku bawa karena pelajaran Seni Budaya pada hari ini menggunakan contoh kain tradisional. Setelah siap, kutinggalkan sepeda yang berteman dengan tas ranselku di kiri jalan. Aku melangkah pelan menuju kearahnya.
Aku berpura-pura menjadi anak seorang petani pemilik sawah ini. Walau sebenarnya jika ditanya siapa pemiliknya, aku pun dengan bersemangat akan menggeleng tidak tahu. Kulihat dia. Tami hanya diam. Dia memejamkan mata. Tak ada angin. Tak ada pula suara-suara asing disekitar gubuk dimana ia duduk didalamnya. Apa aku yang terlalu bodoh untuk tidak mengetahui adanya pertanda? Aku cukup di buat bingung. Dengan beradaanku di jarak 500 meter darinya, aku bertingkah seolah sedang memetik beberapa cabai untuk dibawa pulang. Tak terasa bahwa cabai yang menjadi alasanku berlama-lama disini perlahan mulai memenuhi tanganku. Astaga, aku benar-benar memetiknya! Ya Tuhan, orang yang menanamnya pasti akan senang dengan do’aku sebagai pengganti cabainya yang telah lenyap.
Tami masih terdiam dan memejamkan mata. Tanpa sadar, aku memejamkan mataku juga. Tidak terasa apapun. Mungkin teori mencari wangsit yang kutanggap berbeda dengan milik Tami. Tak lama setelah aku membuka mataku, aku mendapatinya menulis. Di sebuah buku kecil yang dipangkunya, ia menulis dengan senyum kemenangan yang juga ia ukirkan tadi pagi di sekolah. Meski sesekali ia mendapatiku sedang melihat kearahnya, namun ia seakan tak peduli. Ia asyik menulis.
Ya, dia mendapatkan kata-katanya. Aku melihatnya berjalan keluar dari gubuk dan sedikit tergesa menuju motornya. Setelah helm terpasang rapi dikepalanya, ia pun berlalu dengan buku kecil yang sudah bersemayam tenang didalam tas birunya. Aku juga tersenyum. Dan lebih tepat tertawa setelah menyadari bahwa pakaian yang kukenakan siang ini lebih buruk dari kata konyol. Rambut kusam yang dipadu dengan jaket lusuh dan selembar kain penuh motif batik mungkin menjadi kostum paling laris yang digunakan dalam dunia lawak. Aku tertawa kecil dan segera berlalu dari tempat ini. Menuju sepeda paling setia yang kumiliki sambil membawa oleh-oleh beberapa butir cabai untuk Ibu.
--------------
Pagi ini aku berangkat lebih awal. Selain tugas piket harian, aku juga ingin sekali mendapat kejutan kata-kata Tami yang akan dia pidatokan dihadapan anak-anak “The Gankster”, asuhannya, mengenai “si korban” gossip yang hingga saat ini aku belum tahu siapa. Aku melihat ketua gerombolan yang terdiri dari gadis-gadis elite itu masuk ke kelas. Dengan tampang angkuh dan menawan, dia mendekati teman-temannya dan mulailah pembicaraan yang kutunggu-tunggu.
“Aku tadi berjumpa dengannya. Gadis yang menjadi primadona di desanya itu ternyata tak sebaik parasnya. Dia memang baik, cantik dan pintar, tetapi, dia itu norak, menyebalkan dan kekanak-kanakan! Lihat saja cara dia bertingkah. Jelas kelihatan bukan?” sindiran pedas itu ia lontarkan tanpa mimik bersalah sekalipun. Aku tahu siapa yang ia komentari. Laras, perempuan pendiam yang selalu mendapat juara kelas. Perempuan yang baik dan cantik namun sedikit nyentrik soal penampilan. Kalau dari sikapnya sehari-hari, ia memang sedikit manja dan menurutku itu cukup menyebalkan. Ya, dia benar. Tapi pendapatnya belum sepenuhnya benar. Kalau saja ia sadar. Sadar akan sikap yang kurang baik yang menurutnya perlu dibanggakan.
Namun, lamunanku hanya tertelan oleh anggukan setuju dan sorakan hebat yang di tujukan padanya. Aku heran. Bagaimana bisa kemampuan autodidak yang hanya berlandaskan berdiam diri di sebuah gubuk dan memejamkan mata menjadi decakan kagum yang seolah-olah membenarkan semua ucapannya? Aneh memang. Rencanaku harus berjalan.
--------------
Hari ini pelajaran ditutup dengan wajah keletihan para siswa karena ulangan matematika mendadak. Sebagai murid yang berkemampuan rata-rata dalam hal berpikir, membuatku sedikit banyak mengharapkan campur tangan Tuhan untuk hasil ulangan besok. Aku keluar dari kelas dengan langkah lunglai. Berjalan melewati ruang guru, aku memijat-mijat pelan kepalaku. Aku sadar ada yang hilang. Seperti ayam kehilangan induknya, aku mulai mencari-cari sebuah benda yang kuyakini hilang dari pergelanganku. Gelang pemberian Ayah! Tidak. Gelang itu tidak boleh hilang. Itu satu-satunya kenangan yang beliau berikan sebelum akhirnya beliau berpulang ke pangkuan-Nya. Aku menyusuri setiap jalan yang kulalui siang ini. Aku bahkan masuk kembali ke dalam kelas dan memeriksa semua laci layaknya operasi ketertiban. Semua buku yang ada di ranselku sudah kuacak-acak dan hasilnya nihil. Dimana? Aku melangkah pulang dengan tangis yang tersendat. Namun, sesosok perempuan menepuk bahuku pelan dan mengulurkan tangannya perlahan.
“Ini milikmu. Terjatuh saat kamu tak sadar bahwa ranselmu terbuka sebelum keluar dari kelas tadi”, Tami memberikan benda berharga itu padaku. Mulutku menganga. Setelah cukup lama terlihat seperti orang bodoh, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih padanya. Dugaanku benar. Tami orang yang baik, jauh dari sifat menyebalkannya selama ini.
------------
Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak Guru memberi tugas untuk membuat sebuah puisi dengan tema bebas. Sebagian besar siswa merasa kegirangan karena ini tugas yang menurut mereka cukup mudah. Tetapi, bagi beberapa siswa yang hanya ingin menerima dalam keadaan jadi, memilih menggunakan teknologi canggih yang ada di handphone mereka untuk mencari beberapa contoh puisi yang dapat mereka klaim itu karya mereka. Penerus bangsa yang kurang baik. Bagaimana negeriku kelak kalau pemuda harapan bangsa seperti ini?
Setelah waktu yang diberikan untuk menulis puisi habis, kini saatnya beberapa siswa dipanggil maju ke depan kelas untuk membacakan puisi buah karya mereka sendiri. Seorang siswa bernama Tony yang kala itu membacakan puisinya dengan berapi-api, menjadi sorotan kamera mata sang pembicara ulung The Gankster. Siapa lagi kalau bukan Tami. Aku yang kebetulan duduk dibelakangnya hanya menguping dengan santainya sambil berlagak mendengarkan pembacaan puisi dari salah satu ketua kelas sepuluh.
“Dari penampilannya, bisa dibilang tak ada cacatnya. Tapi setelah aku melihat dari sorot mata dan sikapnya sehari-hari, dia itu tipe pembangkang! Lihat saja gaya bicaranya yang berjiwa pemberani dalam membaca puisi.” Lagi-lagi komentator ini berbicara tanpa menoreh sedikit rasa bersalah dari ucapannya tadi. Aku hanya menggeleng pelan.
“Devita Maharani. Silahkan maju dan baca puisimu’’, perintah Pak Salman begitu jelas dan membuatku yakin. Rencanaku menyadarkannya dari kebiasaan buruknya selama ini akan berhasil waktu aku membaca puisiku nanti. Dengan langkah mantap, aku berjalan menuju depan kelas dan menatap seluruh wajah teman-temanku dengan jelas disini.
“Puisi ini terinspirasi dari seseorang yang menarik perhatian saya untuk membuatnya mengerti apa itu cacian dan apa yang sebenarnya dinamakan penilaian.” Kutangkap wajah heran dari hampir semua kawan-kawanku yang menatapku penuh tanya tentang ucapanku tadi. Aku mulai membaca.
“Coba Baca Aku
Sedikit banyak ungkapanmu mengenai orang
Semakin banyak kata-katamu yang membuatnya lara
Air tak selamanya berwujud cair
Begitu pula atmosfer sifat dan karakter yang menyebar, berbeda di setiap diri manusia
Bagaimana kamu bisa berkata “baik” dan bagaimana penilaianmu terhadap suatu yang kau bilang itu ‘’buruk’’ ?
Coba baca aku
Aku tak hanya mampu kau lihat melalui sekilas tatapan
Aku tak dapat diterka dalam sekali pejaman
Aku tak dapat kau nilai dari sebentar pemikiran
Aku hanya kau kenal melalui hati
Hanya dapat kau tahu melalui pikiran jernih dan pendekatan yang tak berusia
Aku bukan pendapatmu
Mereka tak hanya tergambar lewat matamu
Mengerti dan temukanlah
Betapa terimakasih yang kuucapkan menjadi tanda betapa menawannya sikap terdalammu..”
Semua siswa bertepuk tangan. Ada yang mengerti dan ada pula yang hanya mengikuti gerakan tangan yang beradu. Aku puas. Aku benar-benar puas. Aku melihat Tami terdiam. Mungkin mencerna ucapanku tadi. Aku tersenyum. Semoga kamu mengerti kawan…
created by : random.marr
created by : random.marr
Tidak ada komentar:
Posting Komentar